Senin, 24 Mei 2021

Perkembangan Bakat Khusus

 



Pengertian bakat menurut para ahli

1. S.C. Utami Munandar (1985)
Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan,sebagai potensi yang masih perlu di kembangkan dan di latih agar dapat terwujud.berbeda dengan bakat, “ kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan suatu tindakan ( performance) dapat di lakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat di lakukan di masa yang akan datang.
2. Kartini kartono (1979)
Bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupannya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecakapan dan keterampilan khusus tertentu.bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat di aktifkan potensinya.potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat aktif
3. Suganda purbakawatja (1982)
Bakat sebagai “benih dari suatu sifat ,yang baru akan nampak nyata,jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembang”
4. Dyke Bingham (dalam Ny.Moesono;1989)
Bakat adalah suatu kondisi atau serangkaian karakteristik dari kemampuan seseorang untuk mencapai sesuatu dengan sedikit latihan (khusus) mengenai pengetahuan,keterampilan,atau serangkaian respon,misalnya kemampuan berbahasa,kemampuan mengarang lagu dan lain-lain
5. Sarlito Wirawan Sarwono (1979)
Bakat adalah kondisi dalam diri seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan pengetahuan dan keterampilan khusus.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Bakat merupakan kemampuan bawaan,sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud
2. Bakat tidaklah diturunkan semata,tetapi merupakan interaksi dari faktor keturunan dan faktor lingkungan,artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar,dan memiliki ciri khusus
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prstasi tinggi dalam bidang itu.jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi,termasuk inteligensi,kepribadian,interes,dan keterampilan khusus.”bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berembang.

Jenis-jenis bakat

Raven (dalam,pali,1995) mengelompokkan bakat khusus seseorang sebagai berikut:
a. Bakat pemahaman verbal
b. Kemampuan numerikal
c. Skolastik
d. Bakat kerani (kesekretariatan)
e. Pemahaman mekanik
f. Tilikan (pandangan) ruang atau berfikir 3 dimensi
g. Bakat bahasa

h. Ditinjau dari cara berfungsinya Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat dikelompokan menjadi 2 bagian,yaitu:
i. Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik,bakat menari,olah raga dsb.
j. Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu,misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur,bakat berhitung untuk merelisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi,bakat verbal untuk merealisir bakat sebagai wartawan atau penulis novel,bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah

Bakat bukanlah sifat tunggal,melainkan sekelompok sifat yang secara singkat membentuk bakat.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bakar Khusus

1. Variabel-variabel dalam diri siswa
a. Interes atau minat.Minat seseorang akan berpengaruh terhadap pengembangan bakatnya.Seseorang yang berminat terhadap hitung menghitung,berpotensi menjadi ahli matematika.

Tes bakat tertulis yang terkenal adalah tes bakat differesial.ada delapan sub tes tersebut,yaitu:
1) Tes bakat verbal;adalah tes yang dipergunakan untuk mengungkap atau mengukur bakat seseorang dalam berbahasa,seberapa baik seseorang dalam mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata,seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata
2) Tes bakat numerikal;adalah tes yang dipergunakan untuk mengungkap atau mengukur bakat seseorang dalam berpikir dengan angka-angak.Seberapa baik seseorang mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka,seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan memecahkan masalah dengan angka
3) Tes bakat skolastik;adalah tes bakat yang dipergunakan untuk mengukur bakat seseorang dalam mata pelajaran persiapan akademis dan sejenisnya
4) Tes bakat berpikir abstrak;adalah tes yang dipergunakan untuk bakat seseorang dalam memecahkan masalah meskipun tanpa petunjuk yang berupa kata-kata maupun angka-angka.
5) Tes bakat klerikal;adalah tes yang digunakan untuk mengukur bakat seseorang dalam memecahkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas ketatausahaan,seberapa cepat dan teliti seseorang dapat menyelesaikan tugas-tugas tulis menulis

b. Motivasi ,rendahnya motivasi akan menyebabkan bakat tidak akan berkembang atau tidak menonjol. Motivasi berkaitan dengan “tujuan”. Jika kurang motivasi,sedikit saja ada halangan,sudah cukup untuk menghilangkan semangat berlatih.
c. Value, yaitu bagaimana seseorang memberi arti terhadap pekerjaan itu. Misalnya bila seseorang memberi arti negatif terhadap pekerjaan musi, kurang dihargai,maka bakat itu juga terhambat berkembangnya
d. Kepribadian,anak yang berkembang sesuai bakatnya akan memiliki kepribadian yang lebih positif dibandingkan dengan anak yang tidak sesuai bakatnya. Keadaan ini disebabkan oleh sukses-sukses yang dialaminya, serta enggunaan bakatnya mempengaruhi penyesuaian emosionalnya
e. Konsep diri,ada pengaruh timbal balik antara kepribadian dengan konsep diri
Menurut Sarlito (1977) terdpat sejumlah variabel lingkungan yang mempengaruhi berkembangnya bakat pada diri seseorang. Variabel-variabel tersebut adalah:

2. Variabel lingkungan yang mempengaruh bakat khusus

a. Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk memfasilitasi dalam mengekspresikan bakat yang dimiliki siswa,misalnya untuk bakat olah raga yaitu lapangan bermain,bakat musik yaitu alat musik,dan sejenisnya
b. Lingkungan sosial,melalui proses sosialisasi misalnya kebudayaan tertentu membentuk tingkah laku tertentu. Misalnya di Iran mungkin tidak dapat berkembang bakat seni musik,tari,dll. karena disana misalnya tidak dibolehkan bernyanyi. Jadi kesempatan untuk mengekspresikan bakat tersebut sangat sedikit
c. Lingkungan edukasi,pengembangannya melalui pendidikan formal seperti sebagaiman a diajarkan di sekolah
d. Besar atau banyaknya latihan,pengembangan bakat melalui proses training ata latihan
e. Hambatan-hambatan yang ada dalam lingkungan misalnya kemiskinan,cara pengasuhan anak yang kkhusus,dan sebagainya
f. Kemungkinan untuk mengekspresikan atau mengutarakan bakat misalnya apakah diberikan kesempatan latihan yang cukup,apakah tersedia alat dsb.

Usaha-usaha Guru dan Orang Tua Dalam Mengembangkan Bakat Khusus

Bakat bersifat potensial dan memerlukan pengembangan. Untuk pengembangan bakat ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru,antara lain:
1. Perkaya anak dengan macam-macam pengalaman dan membangun motivasi belajar. Dengan cara ini anak akan dapat menemukan dibidang mana bakatnya
2. Dorong atau rangsanglah anak untuk meluaskan kemampuannya,setelah anak mengarang ,anjurkan dia untuk menggambarkannya
3. Bersimpati atau bersama-sama melakukan kegiatan dengan anak
4. Berilah penghargaanatau pujian atas usaha yang dilakukan sekecilapapun usaha tersebut
5. Sediakanlah sarana yang memadai untuk pengembangan anak
1. Bakat merupakan kemampuan bawaan,sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud
2. Bakat tidaklah diturunkan semata,tetapi merupakan interaksi dari faktor keturunan dan faktor lingkungan,artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar,dan memiliki ciri khusus
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prstasi tinggi dalam bidang itu.jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi,termasuk inteligensi,kepribadian,interes,dan keterampilan khusus.”bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berembang

Jadi bakat adalah:

Bakat khusus juga memerlukan pengembangan yang harus didorong dengan maksimal,agar seorang anak tersebut memiliki bakat yang benar-banar berada dalam keahliannya,usaha-usaha yang dapat dilakukan orang tua dan guru yaitu diantaranya memfasilitasi anak dengan apa-apa yang dibutuhkannya dalam proses pengembangan bakatnya,misalnya seorang anak itu berbakat dalam bernyanyi atau seni musik,maka orang tuanya bisa membelikan alat-alat musik yang di butuhkan anaknya atau dengan memberinya les vokal dsb.

Memahami Perkembangan Remaja Beserta Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Perkembangan Hubungan Sosial Remaja



A.      Definisi Perkembangan Hubungan Sosial

Perkembangan sosial ialah pencapaian kematangan dalam hubungan-hubungan sosial. Manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang menjadikan anak sebagai individu yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.

“Perkembangan hubungan sosial adalah suatu proses belajar untuk penyesuaian terhadap norma-norma kelompok, moral, tradisi dan meleburkan diri menjadi satu rasa kesatuan” (Natawidjaja, 2000: 99). Dalam hal ini, perkembangan hubungan sosial ini mencakup perkembangan bentuk-bentuk tingkah laku baru, perubahan dalam minat, dan pilihan tentang tipe-tipe baru. Perkembangan tersebut tidak lain merupakan pengaruh dari lingkungan, baik fisik maupun sosial. Akan tetapi, lingkungan sosial yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis.

Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial, baik dalam keluarga, teman, maupun masyarakat. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa Perkembangan Hubungan Sosial adalah perkembangan tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup untuk dapat melakukan penyesuaian diri didalam lingkungan. Semakin dewasa dan bertambahnya umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi sangat kompleks.

 

 

B.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

1.        Faktor Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Didalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga yang harus ditaati oleh anak. Sikap orang tua yang terlalu membatasi pergaulan akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial bagi anak-anaknya, sebaliknya sikap orang tua yang terlalu memberikan kebebasan bergaul menyebabkan perkembangan sosial anak-anaknya tidak terkendali.

2.        Faktor Kematangan

Proses sosialisasi sangat memerlukan kematangan fisik dan psikhis. Untuk  memberi dan menerima pandangan atau pendapat orang lain, diperlukan kematangan intelektual dan emosional. Selain itu, kematangan mental dan kemampuan berbahasa ikut pula menentukan keberhasilan seseorang dalam berhubungan sosial.

3.        Faktor Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial dipengaruhi pula oleh kondisi atau status sosial ekonomi keluarga. Masyarakat akan memandang seorang anak dalam konteksnya yang utuh dengan keluarga anak itu. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan memperlihatkan kondisi normative yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Ia akan menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya. Hal itu mengakibatkan anak akan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Kondisi demikian dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain, anak dari keluarga kaya akan membentuk kelompok elit dengan nilai dan norma sendiri.

4.        Faktor Pendidikan

Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Sebagai proses pengoperan ilmu yang normative, pendidikan akan memberi warna terhadap kehidupan sosial anak di masa yang akan datang. Pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk kepribadian anak agar mereka memiliki tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

5.        Faktor Kapasitas Mental: Emosi dan Intelligency

Kapasitas emosi dan kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa dan menyesuaikan diri terhadap kehidupan di masyarakat. Perkembangan emosi dan inteligensi berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi  dan memiliki emosional yang stabil akan mampu memecahkan berbagai permasalahan hidupnya di masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

 

C.      Peranan Kelompok Sosial terhadap Perkembangan Hubungan Sosial Individu

Eksistensi anak, sebagaimana halnya juga orang dewasa, bergantung pada orang lain. Semakin bertambah usianya semakin berkurang pula ketergantungan pada kelompok sosial. Namun demikian, ia masih tetap memerlukan kelompok sosial dan tidak bisa hidup tanpa hubungan dengan orang lain.

Anak tidak hanya tergantung pada kelompok sosial, tapi lebih penting bahwa kelompok sosial juga turut menentukan menjadi manusia apa ia kelak. Oleh karena manusia bersifat elastis, baik fisik maupun mental, maka perkembangannya dapat dipengaruhi dan dibentuk menurut pola yang ditentukan oleh anggota-anggota kelompok.

Berikut peranan kelompok sosial terhadap perkembangan hubungan sosial individu, antara lain:

1.        Peranan Keluarga

Peranan keluarga terhadap perkembangan hubungan sosial individu, yaitu:

a.         Keluarga sebagai tempat pertama terjadi interaksi sosial

Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya.

 

b.        Keluarga mempengaruhi cara-cara tingkah laku individu

Dalam hal ini, terdapat proses imitasi dalam kehidupan seorang anak untuk meniru tingkah laku keluarganya.Sehingga keluarga menjadi tauladan bagi anak. Salah satu fungsi dari meniru ialah untuk mengembangkan interaksi sosial anak.

c.         Keluarga memberikan bimbingan pola asuh terhadap anak

Terdapat tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yaitu pola asuh bina kasih, pola asuh unjuk kuasa, dan pola asuh lepas kasih.

§   Pola asuh bina kasih

adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan senantiasa memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap setiap keputusan dan perlakuan yang diambil bagi anaknya.

§   Pola asuh unjuk kuasa

adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan senantiasa memaksakan kehendaknya untuk dipatuhi oleh anak meskipun sebenarnya anak tidak dapat menerimanya.

§   Pola asuh lepas kasih

adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan cara menarik sementara cinta kasihnya ketika anak tidak menjalankan apa yang dikehendaki orang tuanya, tetapi jika anak telah melaksanakan apa yang dikehendaki orang tuanya, maka cinta kasihnya akan kembali seperti sediakala.

 

2.        Peranan Sekolah

Peranan sekolah terhadap perkembangan hubungan sosial individu, yaitu:

a.         Sekolah sebagai tempat kedua mengembangkan hubungan sosial

Interaksi sosial yang terjadi di sekolah tidak begitu mendalam dan berkesinambungan seperti halnya keluarga. Dalam hal ini, sekolah berperan sebagai pengembang hubungan sosial anak yang telah di bentuk didalam keluarga.

b.        Sekolah berperan sebagai pembentukan sikap individu

Selain bertujuan untuk mengembangkan intelektual individu, sekolah juga sangat penting membentuk dan membangun sikap-sikap individu, agar dapat melakukan penyesuaian diri didalam kehidupan bermasyarakat.

3.        Peranan Media Massa

Peranan media massa terhadap perkembangan hubungan sosial individu yaitu menyangkut pengaruh yang diberikannya, dalam hal ini pengaruh positif dan negatif.

a.         Pengaruh Positif

§  Mempertajam daya kritis individu untuk dapat menyesuaikan diri

§  Mengembangkan kecakapan berkomunikasi dan bersosialisasi

§  Memudahkan hubungan sosial dengan semua orang

§  Memudahkan perolehan dan penyebaran informasi dalam melakukan hubungan sosial

b.        Pengaruh Negatif

§  Ketergantungan penggunaan media massa

§  Adanya sikap individualistik sehingga mengurangi hubungan sosial dengan orang lain

§  Menyalahgunakan penggunaan media massa

 

D.      Bentuk-Bentuk Tingkah Laku Sosial

Karakteristik bentuk-bentuk tingkah laku sosial yang muncul bila anak berada didalam situasi yang melibatkan orang lain, antara lain:

1.        Negativisme

Merupakan suatu bentuk tingkah laku melawan yang dibesar-besarkan. Bila anak mengalami kesukaran dalam memaksakan keinginannya kepada orang lain, hal ini dapat menyebabkan anak menjadi bandel, keras kepala, bahkan sikap membrontak. Negativisme ini merupakan hasil dari situasi-situasi sosial yang terjadi sebagai akibat penggunaan disiplin secara agresif dan kurangnya sikap toleransi dari orang dewasa terhadap tingkah laku kekanak-kanakan yang normal.

2.        Agresi

Merupakan reaksi yang umum terhadap frustasi. Anak yang di hukum karena keagresifannya, maka akan menambah frustasinya dan ini akan menyebabakan kelebihan agresif.

 

 

3.        Menggoda

Merupakan bentuk tingkah laku agresif yang lain. Menggoda terdiri dari serangan mental terhadap orang lain sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang di serang. Menggoda dilakukan dengan mengejek atau menyebutkan kata-kata yang dapat menimbulkan kemarahan orang lain.

4.        Persaingan

Persaingan ditandai dengan keinginan untuk melampaui atau melebihi orang lain, dan selalu di dorong (di motivasi) orang lain. Biasanya persaingan yang sering muncul dalam sekolah yaitu persaingan prestasi antar siswa.

5.        Gang

Merupakan kelompok lokal tanpa otorisasi dari luar dan tanpa suatu tujuan yang secara sosial di setujui. Gang ini dibentuk oleh anak-anak sendiri tanpa dukungan dari orang lain. Kelompok ini merupakan hasil usaha spontan dari anak untuk menciptakan suatu masyarakat yang serasi dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.

Gang memberikan pengaruh positif dalam perkembangan sosial anak terhadap proses belajar. Karena didalam gang lebih sering “bermain” secara kooperatif dan mengasah kecakapan berpikir maupun berbuat.

 

E.       Tiga Lingkungan Utama Terjadinya Proses Sosialisasi Individu

Proses sosialisasi individu terjadi didalam tiga lingkungan utama yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

1.        Lingkungan Keluarga

Dalam lingkungan keluarga, anak mengembangkan pemikiran tersendiri yang merupakan pengukuhan dasar emosional dan optimisme sosial melalui frekuensi dan kualitas interaksi dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Proses sosialisasi ini turut mempengaruhi perkembangan sosial dan gaya hidup seorang anak.

Berikut beberapa faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu:

a.         Kebutuhan akan rasa aman

Rasa aman meliputi perasaan aman secara material dan mental. Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakaian, makanan, dan sarana lain yang diperlukan diri individu. Sedangkan perasaan aman secara mental berarti pemenuhan oleh orang tua berupa perlindungan emosional, menjauhkan ketegangan, membantu dalam menyelesaikan masalah, dan memberikan bantuan dalam menstabilkan emosi anak.

b.        Kebutuhan akan penghargaan atau rasa di hargai

Manusia normal, baik anak maupun orang dewasa, senantiasa membutuhkan penghargaan atau di hargai orang lain. Mempermalukan anak didepan banyak orang merupakan pukulan jiwa yang sangat berat dan dapat berakibat buruk bagi perkembangan sosial anak. Oleh karena itu, sebaiknya memberikan pujian kepada anak terhadap kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

c.         Kebutuhan akan rasa kasih sayang

Seorang anak yang merasa dirinya di sayangi akan memiliki kemudahan untuk dapat menyayangi orang tua dan keluarganya, sehingga akan merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dalam keluarg, dan anak tidak merasa takut untuk menyatakan dirinya, pendapatnya, maupun mendiskusikan kesulitan yang dihadapinya.

 

2.        Lingkungan Sekolah

Dalam lingkungan sekolah, anak belajar membina hubungan dengan guru dan teman-teman sekolahnya. Kehadiran di sekolah merupakan perluasan lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus merupakan faktor lingkungan baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan dirinya. Para guru dan teman-teman sekelas membentuk suatu sistem yang kemudian menjadi semacam lingkungan norma bagi dirinya. Selama tidak ada pertentangan, selama itu pula anak tidak akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dirinya.

Ada empat tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu:

a.         Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain.

b.        Anak dididik untuk menaati peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.

c.         Anak dituntut untuk lebih dewasa didalam melakukan interaksi sosial berdasarkan asas saling memberi dan menerima.

d.        Anak dituntut untuk memahami orang lain.

 

3.        Lingkungan Masyarakat

Dalam lingkungan masyarakat, anak dihadapkan dengan berbagai situasi dan masalah kemasyarakatan. Akan tetapi, masalah-masalah tersebut jarang bahkan tidak melibatkan peran anak, terutama dalam hal ini remaja. Di satu sisi remaja dianggap sudah beranjak dewasa, tetapi kenyataannya di sisi lain mereka tidak diberikan kesempatan atau peran penuh sebagaimana orang yang sudah dewasa, sehingga menimbulkan kejengkelan dan kekecewaan pada remaja. Keadaan seperti inilah yang menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.

Sebagaimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah, maka didalam masyarakat diperlukan iklim kehidupan yang kondusif bagi perkembangan hubungan sosial remaja. Mengingat bahwa remaja tengah mengarungi perjalanan masa mencari jati diri sehingga faktor keteladanan dan kekonsistenan sistem nilai dan norma dalam masyarakat juga menjadi sesuatu yang sangat penting.

 

F.       Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja

Terdapat beberapa karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja, yaitu:

1.        Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan

Masa remaja bisa disebut sebagai masa sosial karena sepanjang masa remaja hubungan sosial semakin tampak jelas dan sangat dominan. Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencari kompensasi dengan mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha mencari pergaulan. Penghayatan kesadaran akan kesunyian yang mendalam dari remaja merupakan dorongan pergaulan untuk menemukan pernyataan diri akan kemampuan kemandiriannya.

2.        Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial

Terdapat dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika berhadapan dengan nilai-nilai sosial tertentu, yaitu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut atau tetap pada pendirian dengan segala akibatnya. Ini berarti bahwa reaksi terhadap keadaan tertentu akan berlangsung menurut norma-norma tertentu pula. Bagi remaja yang idealis, akan menuntut norma-norma sosial yang mutlak meskipun segala sesuatu yang telah di cobanya gagal. Sedangkan bagi remaja yang bersikap pasif terhadap keadaan yang dihadapi akan cenderung menyerah atau bahkan apatis.

3.        Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis

Remaja sangat sadar akan dirinya tentang bagaimana pandangan lawan jenis mengenai dirinya. Masa remaja sering disebut masa biseksual. Meskipun kesadaran akan lawan jenis ini berhubungan dengan perkembangan jasmani, tetapi sesungguhnya yang berkembang secara dominan yaitu tumbuhnya ketertarikan  terhadap lawan jenis. Keinginan  membangun hubungan sosial dengan jenis kelamin lain dapat dipandang sebagai suatu yang berpangkal pada kesadaran akan kesunyian.

4.        Mulai cenderung memilih karir tertentu

Dalam hal ini, perkembangan karir remaja masih berada pada taraf pencarian karir. Untuk itu remaja perlu diberikan wawasan karir disertai dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing jenis karir tersebut.

 

G.      Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah laku

Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri yang sering mengarah pada penilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap kritisnya terhadap situasi dari orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain selalu dibandingkan dengan teori yang diikutinya, sehingga ia merasa bahwa tata cara dan adat istiadat yang berlaku bertentangan dengan sikap kritisnya.

Pengaruh egosentris masih sering tampak pada pikiran remaja, karena hal berikut:

1.        Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan kegagalannya dalam menyelesaikan persoalan.

2.        Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.

Pencerminan sifat egois sering dapat menyebabkan “kekakuan” para remaja dalam cara berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja banyak bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan mengganggu dirinya dalam bergaul. Hal ini menimbulkan perasaan seperti selalu di amati orang lain, malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibatnya tingkah lakunya menjadi canggung.

Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, sifat egonya semakin berkurang. Pada akhir masa remaja, pengaruh egosentrisitasnya sudah semakin rendah dan dapat berhubungan dengan orang lain tanpa meremehkan pendapat dan pandangan orang lain.

 

H.      Implikasi Pengembangan Hubungan Sosial Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan

Masa remaja merupakan masa mencari jati diri sehingga ia memiliki sikap yang terlalu tinggi dalam menilai dirinya atau sebaliknya. Remaja umumnya belum memahami benar tentang nilai dan norma sosial yang berlaku dalam kehidupan masyarakatnya. Hal itu menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi dengan kondisi yang terjadi dalam masyarakat.

Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa dan kelompok anak-anak dapat menimbulkan konflik sosial. Sehingga penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan ruang kepada mereka ke arah perilaku yang bermanfaat dan dapat diterima oleh masyarakat umum. Upaya sekolah dalam mengembangkan hubungan sosial remaja, yaitu dengan adanya kegiatan bakti sosial, bakti karya, dan kelompok-kelompok belajar dibawah asuhan para guru pembimbing kegiatan.

Berikut implikasi pengembangan hubungan sosial remaja terhadap pendidikan, yaitu:

v  Mengasah cara berpikir individu menjadi kritis

v  Mengembangkan kematangan intelektual dan emosional individu

v  Meningkatkan hubungan sosial individu

v  Meningkatkan peran serta individu didalam kegiatan pendidikan







VOLTMETER

 

A. Pengertian Voltmeter 

 Voltmeter adalah suatu alat untuk mengukur tegangan listrik yang dipasang secara pararel pada elemen yang hendak diukur. (Daryanto, 2008). Tegangan adalah sebuah besaran dengan satuan Volt (V) untuk perbedaan potensial, atau perbedaan energi listrik di antara dua titik. Misalnya perbedaan energi potensial untuk menggerakkan elektron dan mengalirkan arus listrik. Voltmeter memiliki nilai skala terkecil sebesar 1 volt. Tegangan dan arus mempunyai karakteristik yang berbeda untuk rangkaian seri dan pararel. Pada rangkaian seri tegangan merupakan penjumlahan dari tegangan komponen-komponen yang terdapat pada rangkaian sedangkan nilai arus konstan sepanjangan rangkaian. Pada rangkaian pararel/bercabang nilai tegangan akan sama pada masing-masing cabang sedangkan nilai arus merupakan pemnjumlahan dari nilai arus masing-masing cabang. (Adi, 2010) 

B. Jenis-Jenis Voltmeter

1. Voltmeter Analog 

Voltmeter analog adalah alat pengukur tegangan listrik yang menggunalan jarum jam sebagai penunjuk skala yang bergerak ke range-range yang kita ukur dengan probe. Untuk pengukuran secara detail suatu besaran nilai komponen, Analog tidak bisa diandalkan. Oleh karena itu kebanyakan hanya digunakan untuk mengetes baik atau jeleknya suatu komponen pada waktu pengukuran atau juga dapat digunakan untuk memeriksa apakah sudah tersambung dengan baik sesuai dengan rangkaian blok yang ada pada suatu rangkaian. (Soedjana, 1976).

2. Voltmeter Digital 

Voltmeter digital adalah Voltmeter dengan bentuk dan fungsi yang lebih praktis. Mempunyai kelebihan pada keteletiannya yang melebihi Voltmeter analog. Selain itu kita tidak perlu menghitung secara manual karena Voltmeter digital sudah diprogram sistemnya untuk menampilkan hasil yang sudah terkalkulasi sehingga kita cukup melihat hasil pengukuran pada layar tampilan Voltmeter digital.

3. Bagian- Bagian Voltmeter

a. Skala ukur Skala yang dipergunakan untuk mengukur tegangan letaknya di atas jalur kaca. Titik nol skala letaknya di ujung paling kanan. Ruang diantaranya dibubuhi angka-angka dibagi lagi oleh garis-garis pendek tipis, misalnya letak jarujm pada garis kedua. 
b. Jarum penunjuk skala ,berfungsi untuk menunjukkan skala hasil pengukuran. 
c. Terminal positif , berfungsi sebagai tempat pencolok kabel yang arusnya positif. 
d. Terminal negatif, berfungsi sebagai tempat pencolok kabel yang arusnya negatif. 
e. Batas ukur ,berfungsi sebagai batas skala yang akan diuji dan juga sebagai tempat pencolok kabel yang arusnya positif. 

D. Cara Penggunaan Voltmeter

Prosedur pengukuran tegangan listrik. 
1. Sebelum memakai Voltmeter, pastikan terlebih dahulu Voltmeter dalam keadaan baik. 
2. Atur sekrup pengatur jarum penunjuk bila dirasa jarum penunjuk tidak tepat pada posisi nol. 
3. Atur saklar pemilih pada posisi skala tegangan yang kita akan ukur. Dalam pemilihannya kita ambil batasan saklar pemilih paling besar agar tidak terjadi kerusakan pada Voltmeter bila tegangan listrik ternyata besar. 
4. Pasangkan Voltmeter pada komponen yang akan di ukur. 
5. Bacalah berapa nilai yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk. Saat membaca, optimalkan rentang bacaan yang terbaik agar mendapat hasil yang akurat. 
6. Setelah pembacaan selesai, kita dapat menempatkan probe ke saklar pemilih dengan batasan tegangan maksimum. Dengan cara ini kita akan terhindar dari kerusakan Voltmeter saat tidak sengaja memakainya kembali untuk kembali melakukan pengukuran. 

E. Cara Pembacaan Hasil Pengukuran Voltmeter  

Cara membaca nilai tegangan yang terukur: 
1. Misalkan nilai tegangan yang akan diukur adalah 15 Volt DC 
2. Posisikanlah saklar pemilih pada posisi DCV dan memilih skala terbesar yang tertera yaitu 1000 yang artinya pengukuran dapat dilakukan sampai 1000 Volt. 
3. Saat memperhatikan Voltmeter dan di papan skalanya penunjuk jam tidak terdapat skala terbesar 1000 yang ada hanya 0-10, 0-50, dan 0-250. Maka untuk mempermudah pembacaan perhatikan skala 0-10 saja. 
4. Skala penunjukan 0-10 mempunyai arti bila jarum penunjuk tepat berada pada angka 10, itu sama dengan 1000 Volt nilai tegangan yang terukurnya. Jika jarum penunjuk menunjuk pada angka 5, berarti nilai tegangannya adalah 500 Volt, berlaku juga hal yang sama pada angka skala yang lainnya. 
5. Namun bila nilai tegangan yang akan diukur adalah hanya 15 Volt sementara kita menempatkan saklar pemilih pada posisi 1000, maka jarum pada papan skala di Voltmeter hanya akan bergerak sedikit sekali dan itu membuat kita sulit untuk memperkirakan berapa nilai tegangan yang terukur sebenarnya. Untuk mengatasinya kita pindahkan saklar pemilih ke nilai skala yang membuat jarum penunjuk bergerak lebih banyak sehingga nilai hasil pengukuran lebih akurat. 
6. Saat kita menggeser saklar pemilih ke posisi 10 pada skala DCV dan terjadi pergerakan jarum penunjuk yang cepat ke paling ujung kanan, itu disebabkan karena nilai tegangan yang akan diukur lebih besar dari nilai skala maksimal yang dipilih. Jika hal itu terus terjadi maka akan terjadi kerusakan pada Voltmeter. Untuk itu jika jarum penunjuk pada papan skala bergerak sangat cepat ke kanan, segera pisahkan alat ukur dari rangkaian dan ganti skala saklar pemilihnya ke posisi yang lebih besar daripada sebelumnya. Saat sakelar pemilih diletakkan pada angka 10 maka yang diperhatikan adalah papapan skala antara 0-10, bukan 0-50 apalagi 0-250. 
7. Saat memilih skala 10 untuk mengukur nilai tegangan yang lebih besar dari 10 maka nilai tegangan yang sebenarnya tidak akan terukur atau diketahui. Solusinya, saklar pemilih di posisika pada skala yang lebih besar dari 10 yaitu 50. Saat memilih skala 50 pada skala tegangan DC (DCV), maka pada papan skala di Voltmeter yang harus diperhatikan adalah range skala 0-50 bukan lagi 0-10 atau bahkan 0-250. 
8. Saat saklar pemilih berada di posisi 50 maka jarum penunjuk akan bergerak tepat ditengah antara nilai 10 dan 20 yang pada range skala 0-50 artinya nilai yang ditunjukan itu adalah 15 Volt. 
9. Rumus untuk mengetahui nilai tegangan yang terukur:  
Misalnya, skala saklar pemilih 2.5, skala terbesar pada papan skala 250, dan nilai yang ditunjuk jarum 110, maka:
Berarti dari hasil perhitungan tersebut, besar tegangan yang terukur adalah 1.1 Volt.

  


 

 

  

MULTIMETER

 



Pengertian Multimeter

Multimeter disebut juga multitester atau AVOmeter. “A” untuk amperemeter. “V” untuk voltmeter.“O” untuk ohmeter. Jadi, Multimeter merupakan suatu alat ukur yang dapat kita gunakan untuk mengukur kuat arus, tegangan, dan juga hambatan listrik. Sedangkan kata multimeter berasal dari kata “multi” yang berarti banyak dan juga “tester” yang berarti mengukur. 
Multimeter adalah salah satu alat ukur yang sangat diperlukan untuk mengukur besaran-besaran seperti kuat arus listrik, tegangan listrik, hambatan listrik, maupun kapasitansi. Selain itu juga multimeter dapat digunakan untuk mendeteksi rusak atau tidaknya suatu komponen. 

Bagian-bagian Multimeter

1. Skala

Bagian ini berbentuk seperti busur dan memiliki rentang angka. Ada beberapa skala dengan angka dan warna berbeda.. Skala Ω untuk mengukur nilai hambatan listik. Ada juga skala yang digunakan untuk mengukur nilai tegangan dan kuat arus.

2. Jarum Penunjuk

Bagian ini berfungsi untuk menunjukkan angka pada skala hasil pembacaan pengukuran yang akan kita lakukan. Untuk mengamati hasil pembacaan maka kita harus melihatnya dengan posisi mata tegak lurus dengan multimeter. 

3. Selektor Batas Ukur

Bagian ini dapat kita putar yang berfungsi untuk menentukan batas ukur apa yang akan kita gunakan dalam pengukuran multimeter. di bagian ini terdapat tanda sebagai berikut: 

a. AC V berfungsi untuk mengukur tegangan listrik bolak-balik, 

b. DC V berfungsi untuk mengukur tegangan listrik searah, 

c. DC mA berfungsi untuk mengukur kuat arus listrik, dan 

d. Tanda Ω berfungsi untuk mengukur nilai hambatan suatu komponen.

4. Pengatur Posisi Nol Jarum

Bagian ini berfungsi untuk mengatur posisi nol pada jarum penunjuk skala yang letaknya paling kiri. 

5. Pengatur Nol Ohm

Berfungsi untuk mengenolkan jarum penunjuk ketika akan melakukan pengukuran hambatan listrik. 

6. Probe

Bagian ini terdapat dua probe yaitu probe merah untuk positif (+) dan probe hitam untuk negatif (-).

 7. Terminal Pengukur

Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan probe dengan Multimeter. terdapat dua terminal yaitu terminal positif (+) dan terminal negatif (-).

Jenis-jenis Multimeter

1. Multimeter Analog

Jenis multimeter ini menggunakan layar ukur berupa jarum penunjuk sehingga, untuk pembacaan hasil pengukuran harus dilakukan dengan melihat posisi jarum penunjuk dan melihat posisi selektor pada posisi batas ukur lalu melakukan perhitungan secara manual untuk mendapatkan pengukurannya. 
 Adapun bagian-bagian multimeter analog ini adalah sebagai berikut : 
 a. Skala 
 b. Jarum penunjuk 
 c. Selektor batas ukur 
 d. Pengatur posisi nol jarum 
 e. Pengatur posisi nol ohm 
 f. Probe 
 g. Terminal pengukuran 
 Manfaat Multimeter Digital menurut (Prawiroredjo, 2006) Adalah mengukur kuat arus, tegangan, hambatan listrik, mengukur nilai kapasitansi kapasitor (farad) Mengukur nilai kapasitansi kapasitor dan memeriksa keadaan suatu komponen. (Farad).  

2. Multimeter Digital


Jenis multimeter yang menggunakan layar digital sebagai hasil pembacaan pengukurannya. Hasil ukur yang ditampilkan pada display multimeter digital merupakan hasil yang telah sesuai sehingga tidak perlu menghitung lagi seperti pada multimeter analog. Adapun bagian-bagian multimeter digital adalah sebagai berikut : 
 a. Layar Monitor Untuk melihat hasil pembacaan pada alat ukur multimeter 
 b. Buttons ( tombol ) Tombol yang ada pada Multimeter Digital 
 c. Dial (tombol penyetel) 
d. Input Jacks 
 Manfaat Multimeter Digital Adalah mengukur kuat arus, tegangan, dan hambatan listrik. (Wahyudi, 2015). Menurut (Prawiroredjo, 2006) Prinsip kerja Multimeter Digital adalah gerak d’arsonval yaitu gerakan dasar kumparan putar magnet permanen. 

Cara Penggunaan Multimeter

1. Mengukur tegangan searah (DC) 

 Aturlah posisi selektor batas ukur ke DC V, kemudian kita pilih skala yang paling sesuai. Jika tidak mampu memperkirakan, kita harus memilih skala paling besar yang berguna untuk menghindari rusaknya alat ukur multimeter. Kemudian kita hubungkan Probe merah dan Probe hitam ke dalam terminal tegangan pada multimeter. dengan ketentuan merah dihubungkan ke terminal tegangan yang (+) dan hitam dihubungkan ke (-). Hasilnya akan terlihat di layar hasil atau penunjukan hasil ukur. (Wahyudi, 2015)

2. Mengukur Tegangan Bolak-Balik (AC) 

 Aturlah posisi selektor batas ukur ke AC V, kemudian kita pilih skala yang paling sesuai. Jika tidak mampu memperkirakan, kita harus memilih skala paling besar. Kemudian kita hubungkan Probe merah dan Probe hitam kedalam terminal tegangan pada multimeter. Untuk tegangan AC tidak memiliki polaritas positif ataupun negatif. Hasilnya akan terlihat di layar hasil atau penunjukan hasil ukur. (Wahyudi, 2015) 

 3. Mengukur Kuat Arus Listrik

Aturlah posisi selektor batas ukut pada pengukuran arus, kemudian kita pilih skala yang paling sesuai dengan arus yang akan diukur. Apabila tidak mampu memperkirakan nilai arus ukur. Kita harus memilih skala paling besar untuk menghindari kerusakan. Untuk teknik pengukurannya, kita putus rangkaian yang terhubung ke beban, lalu hubungkan probe merah dan hitam pada kedua terminal yang terputus tersebut secara serial. Hasilnya akan terlihat di layar hasil atau penunjukan hasil ukur. (Wahyudi, 2015)

Cara Pembacaan Multimeter

Pembacaan skalanya yaitu dengan mengamati skala dengan mata tegak lurus, untuk memperoleh nilai tegangan listrik hitung yaitu dengan cara :
Hasil Ukur = Skala yang ditunjuk dengan jarum/skala maksimal X batas ukur  









Perkembangan Bakat Khusus

  Pengertian bakat menurut para ahli 1. S.C. Utami Munandar (1985) Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan,sebaga...