Perkembangan Hubungan Sosial Remaja
A. Definisi
Perkembangan Hubungan Sosial
Perkembangan sosial ialah pencapaian kematangan dalam
hubungan-hubungan sosial. Manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa
dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri
perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi
dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual
dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses
sosialisasi yang menjadikan anak sebagai individu yang secara aktif melakukan
proses sosialisasi.
“Perkembangan hubungan sosial adalah suatu proses belajar
untuk penyesuaian terhadap norma-norma kelompok, moral, tradisi dan meleburkan
diri menjadi satu rasa kesatuan” (Natawidjaja, 2000: 99). Dalam hal ini,
perkembangan hubungan sosial ini mencakup perkembangan bentuk-bentuk tingkah
laku baru, perubahan dalam minat, dan pilihan tentang tipe-tipe baru. Perkembangan
tersebut tidak lain merupakan pengaruh dari lingkungan, baik fisik maupun
sosial. Akan tetapi, lingkungan sosial yang telah memberikan banyak pengaruh
terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan
sosio-psikologis.
Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan
sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri
terhadap lingkungan kehidupan sosial, baik dalam keluarga, teman, maupun
masyarakat. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa
Perkembangan Hubungan Sosial adalah perkembangan tingkat hubungan antar manusia
sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup untuk dapat melakukan
penyesuaian diri didalam lingkungan. Semakin dewasa dan bertambahnya umur,
kebutuhan manusia menjadi kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang
menjadi sangat kompleks.
B. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
1. Faktor
Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan
pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan
sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang
kondusif bagi sosialisasi anak. Didalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan
keluarga yang harus ditaati oleh anak. Sikap orang tua yang terlalu membatasi
pergaulan akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial bagi anak-anaknya,
sebaliknya sikap orang tua yang terlalu memberikan kebebasan bergaul menyebabkan
perkembangan sosial anak-anaknya tidak terkendali.
2. Faktor
Kematangan
Proses sosialisasi sangat memerlukan kematangan fisik dan
psikhis. Untuk memberi dan menerima
pandangan atau pendapat orang lain, diperlukan kematangan intelektual dan emosional.
Selain itu, kematangan mental dan kemampuan berbahasa ikut pula menentukan
keberhasilan seseorang dalam berhubungan sosial.
3. Faktor
Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial dipengaruhi pula oleh kondisi atau status
sosial ekonomi keluarga. Masyarakat akan memandang seorang anak dalam
konteksnya yang utuh dengan keluarga anak itu. Dari pihak anak itu sendiri,
perilakunya akan memperlihatkan kondisi normative yang telah ditanamkan oleh
keluarganya. Ia akan menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya. Hal itu
mengakibatkan anak akan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak
tepat. Kondisi demikian dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi
terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain, anak dari keluarga kaya akan
membentuk kelompok elit dengan nilai dan norma sendiri.
4. Faktor
Pendidikan
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi
anak. Sebagai proses pengoperan ilmu yang normative, pendidikan akan memberi
warna terhadap kehidupan sosial anak di masa yang akan datang. Pendidikan moral
diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk kepribadian anak agar
mereka memiliki tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
5. Faktor
Kapasitas Mental: Emosi dan Intelligency
Kapasitas emosi dan kemampuan berpikir mempengaruhi banyak
hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa dan menyesuaikan
diri terhadap kehidupan di masyarakat. Perkembangan emosi dan inteligensi
berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan
intelektual tinggi dan memiliki
emosional yang stabil akan mampu memecahkan berbagai permasalahan hidupnya di
masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi dan pengendalian emosional
secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.
C. Peranan
Kelompok Sosial terhadap Perkembangan Hubungan Sosial Individu
Eksistensi anak, sebagaimana halnya juga orang dewasa,
bergantung pada orang lain. Semakin bertambah usianya semakin berkurang pula
ketergantungan pada kelompok sosial. Namun demikian, ia masih tetap memerlukan
kelompok sosial dan tidak bisa hidup tanpa hubungan dengan orang lain.
Anak tidak hanya tergantung pada kelompok sosial, tapi lebih
penting bahwa kelompok sosial juga turut menentukan menjadi manusia apa ia
kelak. Oleh karena manusia bersifat elastis, baik fisik maupun mental, maka
perkembangannya dapat dipengaruhi dan dibentuk menurut pola yang ditentukan
oleh anggota-anggota kelompok.
Berikut peranan kelompok sosial terhadap perkembangan
hubungan sosial individu, antara lain:
1. Peranan
Keluarga
Peranan keluarga terhadap perkembangan hubungan sosial
individu, yaitu:
a. Keluarga
sebagai tempat pertama terjadi interaksi sosial
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam
kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial
dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya.
b. Keluarga
mempengaruhi cara-cara tingkah laku individu
Dalam hal ini, terdapat proses imitasi dalam kehidupan
seorang anak untuk meniru tingkah laku keluarganya.Sehingga keluarga menjadi
tauladan bagi anak. Salah satu fungsi dari meniru ialah untuk mengembangkan
interaksi sosial anak.
c. Keluarga
memberikan bimbingan pola asuh terhadap anak
Terdapat tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya,
yaitu pola asuh bina kasih, pola asuh unjuk kuasa, dan pola asuh lepas kasih.
§ Pola asuh bina
kasih
adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik
anaknya dengan senantiasa memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap setiap
keputusan dan perlakuan yang diambil bagi anaknya.
§ Pola asuh unjuk
kuasa
adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik
anaknya dengan senantiasa memaksakan kehendaknya untuk dipatuhi oleh anak
meskipun sebenarnya anak tidak dapat menerimanya.
§ Pola asuh lepas
kasih
adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik
anaknya dengan cara menarik sementara cinta kasihnya ketika anak tidak
menjalankan apa yang dikehendaki orang tuanya, tetapi jika anak telah
melaksanakan apa yang dikehendaki orang tuanya, maka cinta kasihnya akan
kembali seperti sediakala.
2. Peranan
Sekolah
Peranan sekolah terhadap perkembangan hubungan sosial
individu, yaitu:
a. Sekolah
sebagai tempat kedua mengembangkan hubungan sosial
Interaksi sosial yang terjadi di sekolah tidak begitu
mendalam dan berkesinambungan seperti halnya keluarga. Dalam hal ini, sekolah
berperan sebagai pengembang hubungan sosial anak yang telah di bentuk didalam
keluarga.
b. Sekolah
berperan sebagai pembentukan sikap individu
Selain bertujuan untuk mengembangkan intelektual individu,
sekolah juga sangat penting membentuk dan membangun sikap-sikap individu, agar
dapat melakukan penyesuaian diri didalam kehidupan bermasyarakat.
3. Peranan
Media Massa
Peranan media massa terhadap perkembangan hubungan sosial
individu yaitu menyangkut pengaruh yang diberikannya, dalam hal ini pengaruh
positif dan negatif.
a. Pengaruh
Positif
§ Mempertajam daya
kritis individu untuk dapat menyesuaikan diri
§ Mengembangkan
kecakapan berkomunikasi dan bersosialisasi
§ Memudahkan hubungan
sosial dengan semua orang
§ Memudahkan
perolehan dan penyebaran informasi dalam melakukan hubungan sosial
b. Pengaruh
Negatif
§ Ketergantungan
penggunaan media massa
§ Adanya sikap
individualistik sehingga mengurangi hubungan sosial dengan orang lain
§ Menyalahgunakan
penggunaan media massa
D. Bentuk-Bentuk
Tingkah Laku Sosial
Karakteristik bentuk-bentuk tingkah laku sosial yang muncul
bila anak berada didalam situasi yang melibatkan orang lain, antara lain:
1. Negativisme
Merupakan suatu bentuk tingkah laku melawan yang
dibesar-besarkan. Bila anak mengalami kesukaran dalam memaksakan keinginannya
kepada orang lain, hal ini dapat menyebabkan anak menjadi bandel, keras kepala,
bahkan sikap membrontak. Negativisme ini merupakan hasil dari situasi-situasi
sosial yang terjadi sebagai akibat penggunaan disiplin secara agresif dan
kurangnya sikap toleransi dari orang dewasa terhadap tingkah laku
kekanak-kanakan yang normal.
2. Agresi
Merupakan reaksi yang umum terhadap frustasi. Anak yang di
hukum karena keagresifannya, maka akan menambah frustasinya dan ini akan
menyebabakan kelebihan agresif.
3. Menggoda
Merupakan bentuk tingkah laku agresif yang lain. Menggoda
terdiri dari serangan mental terhadap orang lain sehingga menimbulkan reaksi
marah pada orang yang di serang. Menggoda dilakukan dengan mengejek atau
menyebutkan kata-kata yang dapat menimbulkan kemarahan orang lain.
4. Persaingan
Persaingan ditandai dengan keinginan untuk melampaui atau
melebihi orang lain, dan selalu di dorong (di motivasi) orang lain. Biasanya
persaingan yang sering muncul dalam sekolah yaitu persaingan prestasi antar
siswa.
5. Gang
Merupakan kelompok lokal tanpa otorisasi dari luar dan tanpa
suatu tujuan yang secara sosial di setujui. Gang ini dibentuk oleh anak-anak
sendiri tanpa dukungan dari orang lain. Kelompok ini merupakan hasil usaha
spontan dari anak untuk menciptakan suatu masyarakat yang serasi dengan
kebutuhan-kebutuhan mereka.
Gang memberikan pengaruh positif dalam perkembangan sosial
anak terhadap proses belajar. Karena didalam gang lebih sering “bermain” secara
kooperatif dan mengasah kecakapan berpikir maupun berbuat.
E. Tiga
Lingkungan Utama Terjadinya Proses Sosialisasi Individu
Proses sosialisasi individu terjadi didalam tiga lingkungan
utama yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
1. Lingkungan
Keluarga
Dalam lingkungan keluarga, anak mengembangkan pemikiran
tersendiri yang merupakan pengukuhan dasar emosional dan optimisme sosial
melalui frekuensi dan kualitas interaksi dengan orang tua dan
saudara-saudaranya. Proses sosialisasi ini turut mempengaruhi perkembangan
sosial dan gaya hidup seorang anak.
Berikut beberapa faktor dari dalam keluarga yang sangat
dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu:
a. Kebutuhan
akan rasa aman
Rasa aman meliputi perasaan aman secara material dan mental.
Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakaian, makanan, dan
sarana lain yang diperlukan diri individu. Sedangkan perasaan aman secara
mental berarti pemenuhan oleh orang tua berupa perlindungan emosional,
menjauhkan ketegangan, membantu dalam menyelesaikan masalah, dan memberikan
bantuan dalam menstabilkan emosi anak.
b. Kebutuhan
akan penghargaan atau rasa di hargai
Manusia normal, baik anak maupun orang dewasa, senantiasa
membutuhkan penghargaan atau di hargai orang lain. Mempermalukan anak didepan
banyak orang merupakan pukulan jiwa yang sangat berat dan dapat berakibat buruk
bagi perkembangan sosial anak. Oleh karena itu, sebaiknya memberikan pujian
kepada anak terhadap kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
c. Kebutuhan akan rasa kasih sayang
Seorang anak yang merasa dirinya di sayangi akan memiliki
kemudahan untuk dapat menyayangi orang tua dan keluarganya, sehingga akan
merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dalam keluarg, dan anak tidak merasa takut
untuk menyatakan dirinya, pendapatnya, maupun mendiskusikan kesulitan yang
dihadapinya.
2. Lingkungan
Sekolah
Dalam lingkungan sekolah, anak belajar membina hubungan
dengan guru dan teman-teman sekolahnya. Kehadiran di sekolah merupakan
perluasan lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus
merupakan faktor lingkungan baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan
dirinya. Para guru dan teman-teman sekelas membentuk suatu sistem yang kemudian
menjadi semacam lingkungan norma bagi dirinya. Selama tidak ada pertentangan,
selama itu pula anak tidak akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dirinya.
Ada empat tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui
oleh anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu:
a. Anak
dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak
orang lain.
b. Anak dididik
untuk menaati peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.
c. Anak
dituntut untuk lebih dewasa didalam melakukan interaksi sosial berdasarkan asas
saling memberi dan menerima.
d. Anak
dituntut untuk memahami orang lain.
3. Lingkungan
Masyarakat
Dalam lingkungan masyarakat, anak dihadapkan dengan berbagai
situasi dan masalah kemasyarakatan. Akan tetapi, masalah-masalah tersebut
jarang bahkan tidak melibatkan peran anak, terutama dalam hal ini remaja. Di
satu sisi remaja dianggap sudah beranjak dewasa, tetapi kenyataannya di sisi
lain mereka tidak diberikan kesempatan atau peran penuh sebagaimana orang yang
sudah dewasa, sehingga menimbulkan kejengkelan dan kekecewaan pada remaja.
Keadaan seperti inilah yang menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.
Sebagaimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah, maka
didalam masyarakat diperlukan iklim kehidupan yang kondusif bagi perkembangan
hubungan sosial remaja. Mengingat bahwa remaja tengah mengarungi perjalanan
masa mencari jati diri sehingga faktor keteladanan dan kekonsistenan sistem
nilai dan norma dalam masyarakat juga menjadi sesuatu yang sangat penting.
F. Karakteristik
Perkembangan Sosial Remaja
Terdapat beberapa karakteristik menonjol dari perkembangan
sosial remaja, yaitu:
1. Berkembangnya
kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan
Masa remaja bisa disebut sebagai masa sosial karena
sepanjang masa remaja hubungan sosial semakin tampak jelas dan sangat dominan.
Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencari kompensasi dengan
mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha mencari pergaulan. Penghayatan
kesadaran akan kesunyian yang mendalam dari remaja merupakan dorongan pergaulan
untuk menemukan pernyataan diri akan kemampuan kemandiriannya.
2. Adanya upaya
memilih nilai-nilai sosial
Terdapat dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika
berhadapan dengan nilai-nilai sosial tertentu, yaitu menyesuaikan diri dengan
nilai-nilai tersebut atau tetap pada pendirian dengan segala akibatnya. Ini
berarti bahwa reaksi terhadap keadaan tertentu akan berlangsung menurut
norma-norma tertentu pula. Bagi remaja yang idealis, akan menuntut norma-norma
sosial yang mutlak meskipun segala sesuatu yang telah di cobanya gagal.
Sedangkan bagi remaja yang bersikap pasif terhadap keadaan yang dihadapi akan
cenderung menyerah atau bahkan apatis.
3. Meningkatnya
ketertarikan pada lawan jenis
Remaja sangat sadar akan dirinya tentang bagaimana pandangan
lawan jenis mengenai dirinya. Masa remaja sering disebut masa biseksual.
Meskipun kesadaran akan lawan jenis ini berhubungan dengan perkembangan
jasmani, tetapi sesungguhnya yang berkembang secara dominan yaitu tumbuhnya
ketertarikan terhadap lawan jenis.
Keinginan membangun hubungan sosial
dengan jenis kelamin lain dapat dipandang sebagai suatu yang berpangkal pada
kesadaran akan kesunyian.
4. Mulai
cenderung memilih karir tertentu
Dalam hal ini, perkembangan karir remaja masih berada pada
taraf pencarian karir. Untuk itu remaja perlu diberikan wawasan karir disertai
dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing jenis karir tersebut.
G. Pengaruh
Perkembangan Sosial terhadap Tingkah laku
Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan
perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri yang
sering mengarah pada penilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan
orang lain. Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang
menyebabkan sikap kritisnya terhadap situasi dari orang lain, termasuk orang
tuanya. Setiap pendapat orang lain selalu dibandingkan dengan teori yang
diikutinya, sehingga ia merasa bahwa tata cara dan adat istiadat yang berlaku
bertentangan dengan sikap kritisnya.
Pengaruh egosentris masih sering tampak pada pikiran remaja,
karena hal berikut:
1. Cita-cita
dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri, tanpa
memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang
mungkin menyebabkan kegagalannya dalam menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan
berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam
penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan
perhatian sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan
pandangan orang lain mengenai dirinya.
Pencerminan sifat egois sering dapat menyebabkan “kekakuan”
para remaja dalam cara berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul
pada masa remaja banyak bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan
mengganggu dirinya dalam bergaul. Hal ini menimbulkan perasaan seperti selalu
di amati orang lain, malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibatnya tingkah
lakunya menjadi canggung.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta
dalam menghadapi pendapat orang lain, sifat egonya semakin berkurang. Pada
akhir masa remaja, pengaruh egosentrisitasnya sudah semakin rendah dan dapat
berhubungan dengan orang lain tanpa meremehkan pendapat dan pandangan orang
lain.
H. Implikasi
Pengembangan Hubungan Sosial Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Masa remaja merupakan masa mencari jati diri sehingga ia
memiliki sikap yang terlalu tinggi dalam menilai dirinya atau sebaliknya.
Remaja umumnya belum memahami benar tentang nilai dan norma sosial yang berlaku
dalam kehidupan masyarakatnya. Hal itu menimbulkan hubungan sosial yang kurang
serasi dengan kondisi yang terjadi dalam masyarakat.
Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa
dan kelompok anak-anak dapat menimbulkan konflik sosial. Sehingga penciptaan
kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan ruang kepada mereka
ke arah perilaku yang bermanfaat dan dapat diterima oleh masyarakat umum. Upaya
sekolah dalam mengembangkan hubungan sosial remaja, yaitu dengan adanya
kegiatan bakti sosial, bakti karya, dan kelompok-kelompok belajar dibawah
asuhan para guru pembimbing kegiatan.
Berikut implikasi pengembangan hubungan sosial remaja
terhadap pendidikan, yaitu:
v Mengasah cara
berpikir individu menjadi kritis
v Mengembangkan
kematangan intelektual dan emosional individu
v Meningkatkan
hubungan sosial individu
v Meningkatkan peran
serta individu didalam kegiatan pendidikan